Gimana Cara Memanajemen Rasa Takut

Sumber : www.trisws.co.cc

Telah banyak tulisan, berupa pengetahuan tentang bagaimana kita bisa meraih keberhasilan. Ada yang menyebut,  jika ingin berhasil harus memiliki keyakinan. Tetapi tidak dijelaskan sejauh mana keyakinan itu harus ditanamkan. Selanjutnya, seberapa besar value dari keyakinan itu, dari mana keyakinan itu didapatkan, dan sudah cocok atau tidak, antara apa yang diyakini, dengan apa yang dijadikan tujuan. Sebab bila tidak mengetahui variabel yang akan dihadapi, bukan keyakinan yang didapat, melainkan over confident, sehingga akan menemui kegagalan, akhirnya menjadi putus asa.

Ada juga yang mengatakan, jika ingin sukses, terlebih dahulu kita harus punya mimpi. Bahkan jika perlu, impian itu diucapkan berulang-ulang didepan cermin, dengan menatap wajah kita sendiri sambil berkata, bahwa saya harus berhasil.  Lupa, bahwa apabila mimpi tidak dikelola dengan benar, alih-alih akan sukses meraih mimpinya, yang terjadi justru, menjadi angan-angan belaka. Tanpa menjadi kenyataan, berubah menjadi “pemimpi”, dan terus menerus berdiri didepan cermin. Mungkin sambil dengan tersenyum sendiri, melihat wajah dan penampilan kita, adakah yang tidak sesuai, dan lain sebagainya. Akhirnya, kita malah senang berada didepan cermin, dibandingkan untuk melangkah melakukan suatu pekerjaan. Yang terjadi, sering terlambat berangkat kerja.
 Sementara, ada pula yang berteori, kita harus positif thinking, agar apa yang dilakukan menjadi positif. Jika kita berpikir negatif hasilnya pasti negatif. Ini memang logis. Akan tetapi, kita bukan semata untuk berpikir positif ataupun negatif. Kesemuanya itu, hanya merupakan awal disaat akan melangkah untuk mencapai suatu tujuan akhir. Bila kita hanya fokus pada pola pikir belaka, salah-salah hanya terhenti sampai pola pikir itu saja yang didapat, dan kita mahir mengeluarkan teori akhirnya tidak dapat melakukan kegiatan apapun, selain hanya berputar-putar, diantara definisi yang satu ke definisi yang lain. Sehingga kegiatan yang dicapai masih berada didalam manusia batin. Dan masih berada disekitar “karsa(kehendak) dan  cipta(membuat) “, belum sampai pada tingkat ragawi yaitu “karya”(produk). Ringkasnya, hanya sampai tahap golden will belaka.
 Sedangkan didalam budaya jawa dikenal istilah “ alon-alon waton kelakon”( pelan-pelan yang penting tercapai). Hal ini hanya bisa dilakukan disaat jaman belum berubah seperti dahulu. Kalau teori ini dilaksanakan pada jaman sekarang, yang sudah berada pada jaman milenium, tanpa diberi batasan waktu yang tepat dan jelas, bukan keberhasilan yang diraih, melainkan kegagalan demi kegagalan yang akan dialami. Bagi orang yang gampang putus asa, akhirnya menjadi pasif, dan menjadi penonton belaka, terhadap keberhasilan orang lain. Sedang mereka, tetap saja menjadi buruh, menjadi karyawan, serta memenuhi impiannya orang lain. Sedangkan mimpinya sendiri, terkubur bersama hiruk pikuknya zaman itu sendiri. Sehingga, sering pula istilah jawa ini saya jadikan anekdot menjadi “ alon-alon, kelakon modhar” ( pelan-pelan bisa kematian yang diraih).
 Saya bukan tidak sepakat terhadap beberapa teori diatas, karena betapapun bagaimana, seluruh teori itu pasti pernah dipraktekkan dan berhasil, minimal oleh orang yang mengeluarkan teori. Namun yang perlu kita ingat, bukankah mereka yang punya teori telah mati? Sehingga, bisa saja teori teori itu telah berlalu bersama perkembangan zaman, dan akan muncul pula teori-teori baru sesuai dengan perkembangan zaman itu sendiri.
 Berawal dari sudut pandang beberapa teori diatas, dengan segala kelemahan dan kelebihan yang ada didalamnya, saya mencoba untuk membuat sebuah teori dari sudut pandang metafisika. Dengan harapan, akan bisa dipakai didalam mengatasi kemelut zaman milenium yang serba multi dimensi, agar kita semua tidak selalu menjadi penonton diantara orang-orang yang berhasil, yaitu ; “Mengelola rasa takut( managemen ketakutan)”.
Teori ini adalah merupakan penggabungan antara : (impian+keyakinan+ positif thinking+ kesabaran) + Rasa takut.
Untuk lebih jelasnya saya uraikan menjadi  4 + 1  tahapan, sebagai berikut:
Tahap pertama : Setiap orang, disaat akan mengawali suatu kehendak, selalu memiliki tujuan yang ingin dicapai, berapa lama kehendak itu akan dicapai, serta alasan-alasan pokok sebagai pendukung, kenapa ingin mencapainya. Dan kehendak ini, saya kemas menjadi suatu impian; Tahap kedua : jika syarat tahap pertama telah terpenuhi, pada tahap kedua ini kita harus memiliki rasa percaya diri untuk melangkah, sehingga akan menimbulkan suatu kekuatan untuk mendorong apa yang menjadi kehendak; Tahap ketiga :  jika kedua tahap diatas telah dilalui, masuk pada tahap ketiga, adalah positif thinking. Hal ini bertujuan, agar supaya disaat kita melangkah sudah tidak ada lagi keraguan, apabila ditengah jalan ada hambatan yang akan menyebabkan kita menjadi ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan; Tahap keempat : Harus penuh kesabaran didalam melaksanakan kehendak, sehingga 3 tahap yang telah dimiliki tidak kembali sia-sia. Sebab dari masing-masing tahap, disamping memiliki peran sendiri yang saling melengkapi satu sama lain, juga mengandung suatu energi yang dibutuhkan didalam meraih suatu kehendak menjadi suatu keberhasilan.
 Namun demikian, 4 tahap ini masih belum cukup, walaupun semuanya telah menyatu menjadi suatu kekuatan untuk mencapai cita-cita. Mengapa? Karena kekuatan yang ada pada masing-masing tahap, mempunyai kriteria sendiri, energi tersendiri, yang berbeda antara yang satu dengan yang lainya. Keempat energi itu bisa bersatu, karena saat tercipta, pada suasana yang masih dalam persiapan dan perencanaan. Serta masih belum dihadapkan pada suatu kenyataan ketika diterapkan di lapangan. Padahal kita mengetahui antara teori dan praktek, sering tidak sejalan seperti apa adanya. Semuanya tergantung pada Situasi ; Kondisi ; Toleransi ; Pandangan ; dan Jangkauan( sikontolpanjang). Sehingga, disaat sikontolpanjang ini terjadi perubahan yang ekstrim, menjadi anomali, maka 4 energi yang telah terkumpul dan menyatu, akan kembali tercerai berai. Alih-alih mau mencapai keberhasilan, jika dipaksakan untuk disatukan lagi dari awal, akan membuat semuanya berantakan. Inilah gambaran kenapa banyak orang selalu mengalami kegagalan berkali-kali. Seperti yang baru saja terjadi, kenapa pemain sepak bola Indonesia yunior kalah terus disaat melawan Malaysia. Padahal permainannya di kandang sendiri, apalagi bermain dikandang lawan.
 Tentu semuanya tidak habis pikir, walaupun berkali-kali telah mengatakan belajar dari kekalahan, namun hasilnya tetap saja kalah. Akhirnya terlontar ucapan : kita belum waktunya untuk menang, para pemain sudah kelelahan ; para pemain kalah mental, dan lain sebagainya. Bukankah ungkapan ini, sebenarnya merupakan ungkapan dari seseorang yang putus asa? Karena, memang sudah tidak menemukan jawaban yang cocok, apa sebabnya bisa kalah, padahal seluruh kekuatan, bonus yang besar dijanjikan, ribuan supporter memenuhi stadion, serta berbagai macam schok teraphy diterapkan pada pihak lawan. Namun, hasilnya tetap kalah. Aneh bukan? Padahal sama-sama makan nasi, dan jumlah penduduk Indonesia lebih dari 135 juta orang, masak mencari 11 pemain sulit? Kenyataannya tetap sulit. Jawabnya, sebenarnya sepele, yakni didalam diri pemain masih belum dilengkapi dengan energi lain berupa suplemen dasar yakni : Mengelola rasa takut( managemen ketakutan).
 Kelihatannya apa yang saya tulis ini tidak masuk akal, tetapi saya coba lagi memberikan gambaran, sambil sekedar mengingatkan kembali pada masa penjajahan dahulu. Bukankah, Indonesia pernah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun, kemudian dilanjutkan oleh penjajahan Jepang selama 3,5 tahun. Dengan senjata apa para pejuang melawan penjajah Belanda?  Kemudian, berapa tahun mayoritas umur para pejuang? Tetapi, kenapa penjajah Belanda dan Jepang bisa terusir dari bumi Indonesia dengan penuh ketakutan? Padahal kita tahu umur para pejuang masih muda belia, bahkan ada yang masih 14 tahun. Sedangkan senjatanya hanya berupa bambu runcing belaka, namun bisa merampas Tank, dan senjata-senjata berat lainnya. Jawabnya tidak lain, adalah “rasa takut”. Dengan adanya ketakutan dijajah kembali, dan bayangan adanya siksaan yang amat sangat, Akhirnya rasa takut ini mengalir keseluruh raga dan jiwa. Dibayangi perasaan takut yang diciptakan sendiri, menjadi sebuah kesadaran untuk memunculkan kekuatan yang maha dahsyat. Bukankah, perasaan takut ini juga dibuktikan oleh Indonesia yunior, disaat melawan malaysia pada menit-menit awal pertandingan? Sehingga dalam waktu 2 menit awal terjadi goal. Kenapa rasa takut muncul? Karena pada pertandingan sebelumnya Indonesia telah kalah. Namun sayangnya, setelah terjadi goal, rasa ketakutan ini dihilangkan, sehingga kembali lengah. Dapat diterka hasil akhirnya, yakni kekalahan yang membuat kecewa seluruh bangsa.
 Jadi intinya adalah, rasa takut harus dikelola, karena didalam rasa takut mempunyai energi sebagai pengikat 4 tahap diatas, menjadi satu kesatuan yang kokoh, serta tidak akan bisa mencerai beraikan 4 energi yang ada, walaupun ada hal-hal yang ekstrem sekalipun. Karena sifat yang terkandung didalam rasa takut memiliki sifat yang lentur seperti karet, didalam menghadapi kendala apapun jenisnya, seberat apapun situasi dan kondisinya. Dari sini menunjukkan, betapa Maha besarnya Tuhan yang telah menciptakan kita, sehingga didalam kitab suci Al Qur’an banyak berisi ancaman-ancaman tentang neraka, kehancuran alam semesta, dan lain-lain. Hal itu semata-mata agar kita memiliki rasa takut yang dominan. Dan dari rasa takut yang dominan, apabila memenuhi seluruh rongga rasa, dan memancarkan kedalam bentuk perasaan, menjadi energi yang tidak terhingga, untuk senantiasa mengikat 4 energi diatas, sampai menuju pada tujuan akhir, yakni kembali pulang ke pangkuan Tuhan.

Tinggalkan Kicauan anda disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s