Energi “Kasih”

Kata “ kasih”, terdiri dari 5 huruf yang berbeda. Kemudian digabung menjadi satu kata yang indah, serta semua orang selalu merindukan. Bukan terhadap kata yang tertulis, tetapi kepada makna yang terkandung didalam kata “kasih”. Banyak kata yang terdiri dari 5 huruf. Namun, makna yang ada didalam kata, tidak ada yang lebih indah, dan lebih dalam, dibandingkan dengan kata “kasih”. Mengapa?
Hal itu, karena kata “ kasih”, merupakan induk dari seluruh “rasa”. Disamping mewakili puncak dari seluruh rasa, juga karena yang membawa “ kasih”, adalah seorang ibu sebagai lambang kelembutan, perhatian, kasih sayang, ketegaran, cinta, perjuangan, dan lain-lain. Juga, mengandung arti bahwa “ kasih”, adalah merupakan karakter dari Tuhan  terhadap sesama, yang selalu Maha Kasih.

Kenapa didalam kasih ada energi? Hal ini karena, semua kata merupakan rangkaian dari huruf. Sedangkan huruf sendiri, adalah merupakan lambang, atau semiotika. Adapun masing-masing huruf, tentu mengandung makna, yang meliputi : bunyi atau suara, makna, tinggi rendahnya nada, karakter, locus atau tempat.  Bunyi atau suara, adalah merupakan energi yang memancarkan gelombang transversal. Jika suara bukan energi, tentu kita tidak akan bisa mendengarkan radio, telephone, melihat televisi, dan lainnya. Begitu pula terhadap kata “ kasih”, yang diawali dengan konsonan  “ k” , 3 huruf vocal, dan diakhiri dengan konsonan “ h”.

Tinjauan secara metafisika, huruf konsonan awal, mengandung arti “ dasar” atau landasan, yang melambangkan “ kokoh dan kuat”( seluruh kata yang berawal huruf “ k”). Sedang konsonan akhir “ h” adalah merupakan tujuan akhir melambangkan “ hasil akhir, harta, hidup, hakiki, dan hampa( seluruh kata yang berakhiran dengan konsonan “ h”). Sedang 3 huruf vokal yang berada ditengah adalah ” ASI “, merupakan singkatan dari : Aku Sayang Ibu. Jadi, bila arti seluruh huruf itu digandeng, memiliki  arti bahwa ; dengan landasan yang kuat serta menyayangi ibu, maka akan mendapatkan hasil akhir yang sempurna“. Dari sini saya menarik kesimpulan, bahwa segala sesuatu pikiran, perbuatan, dan seluruh karya seseorang, harus dimulai dengan konsep dasar yang kokoh, dan kuat. Karena, konsep dasar merupakan akar pohon didalam tanaman. Sedangkan tujuan akhir  dari tanaman, adalah buah, untuk memberikan manfaat pada orang yang membutuhkan. Kenapa saya melambangkan dengan pohon? Karena didalam pohon atau tanaman, juga tidak lepas dari 5 unsur, meliputi:
 1. Akar tanaman, yang merupakan penunjang dari kehidupan, dan tegaknya pohon, mencari dan  membagi makanan yang didapat dari tanah ;
2. Batang, merupakan raga untuk tempat menempel, dari dahan dan ranting ;
3. Dahan dan ranting , tempat untuk tumbuhnya daun, bunga, dan buah.
4. Daun ( untuk pembakaran dan pernafasan pohon) ;
5. Bunga dan buah yang merupakan hasil akhir.
Selanjutnya, bila kata “ kasih” dikaitkan dengan sebuah lagu, juga tidak terlepas dari notasi, atau tangga nada. Walaupun jumlah tangga nada jumlahnya ada 7 lambang,  yakni 1; 2; 3; 4; 5; 6; 7,  serta 12 tangga nada yakni :G ; Ab ; A ; Bb ; B ; C ; C# ; D ; Eb ; E ; F ; F#  namun didalam pemakaian notasi dalam 1 baris lagu, tidak akan lebih dari 5 tangga nada yang berbeda ( bagi yang mengenal musik, ini bisa dibuktikan sendiri). Kenapa ini bisa terjadi? Apakah merupakan kebetulan? Tidak! Sebab, semua yang ada didunia, tidak akan lepas dari 5 huruf, yang merupakan jumlah lambang energi yang dibutuhkan makhluk hidup. Yakni : Air, api, angin atau udara, tanah dan tanaman. Dan apakah juga merupakan kebetulan bila kata : dunia, Tuhan, Allah, harta, cinta, kasih, dukun, ustad, ulama, kafir, sesat, setan, iblis, suami, istri, sehat, sakit, benar, salah, dan sebagainya. Ini sekedar tinjauan dari bahasa yang dipakai secara umum oleh masyarakat Indonesia.
Apabila penggabungan 5 energi tidak tepat, dan tidak sesuai dengan energi yang dibutuhkan manusia, maka akan terjadi suatu keadaan, yang merupakan pembalikan energi kedalam diri manusia itu sendiri. Dan akibatnya, 5 energi yang dikumpulkan akan membahayakan pada diri manusia, baik “lahir” maupun “batin” ( juga terdiri dari 5 huruf). Serta, manusia akan mengalami keadaan yang negatif, yang dilambangkan dengan kata “ sakit, susah, kacau, marah, sedih, ruwet, lelah, cerai, putus, dan lain-lain”.
Jadi, didalam pemilihan energi yang dibutuhkan oleh manusia lahir maupun batin, adalah sangat tergantung sepenuhnya, kepada benar dan tidak, didalam susunan penggabungan energi yang dibutuhkan. Untuk itu, diperlukan suatu perencanaan yang matang, terhadap tujuan yang ingin dicapai. Serta, adakah akibat samping yang akan terjadi bila tujuan itu dicapai, dan apa jalan keluar yang akan diambil bila ada hambatan jika kita tidak mampu mengatasi. Adapun jalan yang harus dilakukan supaya pemilihan energi bisa tepat guna, dan berhasil guna yang maksimal diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :
 1. Buah pikiran atau ide yang akan dilakukan ;
2. Perencanaan ;
3. Pelaksanaan ;
4. Pencapaian hasil( tujuan akhir) ;
5. Evaluasi.( untuk pengembangan selanjutnya).
Adapun yang menjadi pedoman, agar lima hal diatas bisa berhasil dengan baik, maka dibutuhkan pedoman didalam melaksanakannya, yaitu “ kasih” yang merupakan induk dari segala energi yang ada di alam semesta. Karena  didalam “ kasih” melambangkan watak dari “ rasa” manusia yang murni dari Tuhan, yang miniaturnya adalah berupa  karakter jiwa yang dimiliki oleh sosok seorang ” ibu”. Intinya, wujud kasih itu, adalah diri ibu itu sendiri. Sehingga, apabila kita ingin berhasil, dan penuh keselamatan didunia, maupun di akherat, adalah dengan menerapkan karakter ibu, kedalam diri manusia masing-masing. Menjadi suatu perbuatan, didalam interaksi sosial kemasyarakatan. Sehingga, gabungan 5 huruf energi yang timbul, akan serasi, selaras, dan seimbang. Bagaikan sebuah lagu yang indah, yang bisa dirasakan dengan jiwa penuh keindahan pula. Jika didalam menggabungkan 5 unsur energi itu tidak sesuai, maka akan berakibat terhadap lagu yang dinyanyikan akan fals. Serta tidak enak didengar. Dan, akan mengakibatkan energi yang dikeluarkan malah terbalik, menyerang diri manusia itu sendiri.
Begitu pula halnya didalam menjalani agama. Jika didalam memahami, dan menerapkan dengan  tepat, seperti didalam memilih tangga nada yang akan dipakai, maka lagu yang didengar akan indah. Serta menyejukkan, membahagiakan bagi dirinya, maupun orang lain. Sebaliknya, jika kita belum pengalaman, dan belum pernah belajar musik lalu disuruh menyanyi, maka suara yang muncul tidak enak didengar. Malahan, dapat menyakitkan hati, dan telinga orang yang menikmati lagu itu.
 Itulah agama, bisa membuat ketenangan, dan ketentraman, serta kedamaian bagi para penganutnya. Atau sebaliknya, dapat membuat kerusakan, dan kekacauan. Baik bagi para penganutnya, maupun bagi orang lain yang terkena imbasnya. Ringkasnya, semua hal yang ada, tidak akan lepas dari suatu proses belajar, berpikir, dan memahami. Kemudian, melaksanakan apa yang didapat, dengan mengacu pada energi makna, yang terdapat didalam “energi kasih”.

2 thoughts on “Energi “Kasih”

Tinggalkan Kicauan anda disini...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s